Yuk Simak! 5 Tempat Wisata Religi Bersejarah di Medan

Tahukah kamu tempat wisata religi bersejarah di Kota Medan Sumatera Utara, yang telah berdiri kokoh dan megah dengan usia mencapai puluhan bahkan ratusan tahun.

Di kota Medan, ada beberapa tempat wisata religi bersejarah masih yang berdiri dengan arsitektur yang megah dan tidak sedikit pula masih terjaga hingga saat ini. 

Namun, jika diperhatikan tempat-tempat ini tidak hanya dijadikan sebatas tempat untuk beribadah saja, tetapi juga dijadikan sebagai objek wisata.

Berikut 5 tempat wisata religi bersejarah di kota Medan yang wajib kamu ketahui dan kunjungi.

1. Masjid Al Osmani
Masjid Al Osmani bernuansa Melayu.

Masjid Al Osmani adalah sebuah masjid di Medan Sumatera Utara yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Labuhan atau Masjid Kuning. Lokasinya masjid ini terletak di jalan K.L. Yos Sudarso Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan sekitar 20 kilometer sebelah utara Kota Medan. Masjid ini adalah masjid tertua di kota Medan.

Pada tahun 1854, Raja Deli ke-tujuh, yakni Sultan Osman Perkasa Alam dengan menggunakan bahan kayu pilihan membangun masjid ini. 

Kemudian pada tahun 1870 hingga 1872, masjid yang terbuat dari bahan kayu itu dibangun menjadi permanen oleh anak Sultan Osman, yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam yang juga menjadi Raja Deli ke-delapan.

Masjid Al Osmani masa Kesultanan Deli.

Mahmud Al Rasyid melakukan pemugaran besar-besaran terhadap bangunan masjid yang diarsiteki seorang arsitek asal Jerman, GD Langereis. 

Selain dibangun secara permanen, dengan material dari Eropa dan Persia, ukurannya juga diperluas menjadi 26 x 26 meter.

Pemugaran terhadap bangunan masjid ini telah dilaksanakan tanpa menghilangkan arsitektur asli yang merupakan perpaduan bangunan Timur Tengah, India, Spanyol, Melayu, dan Tiongkok.

Kombinasi arsitektur empat Negara yakni, pada pintu masjid berornamen Tiongkok, ukiran bangunan bernuansa India, dan arsitektur bernuansa Eropa, dan ornamen-ornamennya bernuansa Timur Tengah. 

Interior Masjid Al Osmani berwarna kuning.

Rancangannya unik, bergaya India dengan kubah tembaga bersegi delapan. Kubah yang terbuat dari kuningan tersebut beratnya mencapai 2,5 ton

Di masjid ini juga terdapat lima makam raja deli yang dikuburkan yaitu, Tuanku Panglima Pasutan (Raja Deli IV), Tuanku Panglima Gandar Wahid (Raja Deli V), Sulthan Amaluddin Perkasa Alam (Raja Deli VI), Sultan Osman Perkasa Alam, dan Sulthan Mahmud Perkasa Alam.

Selain digunakan sebagai tempat beribadah, masjid itu juga dipakai sebagai tempat peringatan dan perayaan hari besar keagamaan dan tempat pemberangkatan menuju pemondokan jemaah haji yang berasal dari Medan bagian utara.

Jamaah Masjid Al Osmani lagi beribadah.

Berada ditepi jalan menuju ke daerah Belawan. Bangunan yang indah dengan arsitektur melayu serta dominasi cat warna hijau dan kuning. Terdapat makam yang tepat berada di depan bagian masjid.

Untuk mengunjungi Masjid ini, Bila dari Pelabuhan Belawan, kamu menempuh perjalanan bekisar 20 menit menggunakan kendaraan bermotor. Akan tetapi, bila kamu dari Bandara Kualanamu kamu menempuh perjalanan selama 45 menit lewat jalan tol Medan Belawan.

Akses lokasi ke Masjid Al Osmani cukup mudah, kamu bisa menggunakan sepeda motor, mobil, angkutan umum maupun travel.

Jika kamu berkunjung ke Kota Medan, jangan lupa untuk melakukan wisata religi dengan mengunjungi Masjid Al Osmani.

2. Vihara Gunung Timur
Vihara Gunung Timur dari sisi depan.

Vihara Gunung Timur adalah kelenteng Tionghoa (Taoisme) yang terbesar di Kota Medan dan mungkin juga di pulau Sumatera. 

Kelenteng ini dibangun pada tahun 1930-an. Vihara Gunung Timur terletak di Jalan Hang Tuah No.16, Madras Hulu Kecamatan Medan Polonia, Medan Sumatera Utara, sekitar 500 meter dari Kuil Shri Mariamman dan berada di sisi Sungai Babura.

Pada mulanya, bangunan Vihara tersebut sangat sederhana, bangunan dari kayu dengan beratapkan rumbia. Namun, karena adanya donasi dari donatur, bangunan vihara tersebut direnovasi menjadi permanen.

halaman ruang Vihara Gunung Timur

Bahkan luas tanahnya pun bertambah, hingga menjadi sangat presentasi. Kemudian, untuk halaman Kelenteng ini sangat luas, hingga dapat menampung ratusan kendaraan roda empat.

Bangunan Vihara memperlihatkan deretan pilar kuat penyangga atap, yang diukir dengan huruf China di permukaannya. Begitu juga lentera china berbentuk bulat yang menghiasi langit-langit.

Vihara ini memiliki ruang utama yang sangat luas, dengan daya tampung ratusan orang. Di altar ruangan utama terdapat banyak patung dewa, lilin ukuran sangat besar dan tempat pembakaran Hio/Dupa.

Pintu gerbang Vihara.

Vihara tersebut dibuka setiap hari pada pukul 07.00 Wib sampai pukul 17.00 Wib. Sementara untuk pengunjung Vihara Gunung Timur, hampir setiap hari ada pengunjungnya.

Vihara tersebut terbuka untuk umum. Bagi para wisatawan juga boleh dengan leluasa melihat bahkan memotret, merekam, memvideokan langsung tata-cara beribadah umat Khonghucu dan umat Buddha. Kemudian wisatawan juga dapat mengabadikan setiap inci bagian dalam vihara.

Jadi, untuk kamu jangan melewatkan kesempatan menikmati wisata religi saat berkunjung di Kota Medan.


3. Gereja Katedral Medan
Gereja Katedral Medan tempo dulu.

Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal atau sering disebut Gereja Katedral Medan adalah paroki di bawah Keuskupan Agung.


Pasca Perang Sunggal banyaklah tentara Belanda yang datang ke Labuhan dan Medan diantaranya ditambah dengan pemilik perkebunan. Sudah ada sekitar 300 orang penganut agama Katolik. 


Maka pada awal 1879 dibangunlah gereja katolik di jalan Pemuda no.1 (Dulu jalan ini bernama Paleisweg). Inilah Gereja pertama kali di Medan Sumatera Utara.


Gereja Katedral Medan (saat ini) dari sisi depan.

Awal Gereja Katedral Medan ini hanya berupa gubuk beratap rumbia tempat ibadah puluhan umat Katolik yang mayoritas India-Tamil dan Belanda dan dikirimkan seorang pendeta Jezuit (Pendeta Tentara Belanda) dari Padang yang khusus untuk penganut Katolik orang Eropa.


Selain itu dibangun pula di daerah Padang Boelan sebagai tempat pastor (Sekarang menjadi Gereja Karo) dan disitulah orang Karo pertama dibaptis pada tahun 1893.


Mulai 30 Januari 1928, Gereja diperluas dengan menambah bagian panti imam, ruang pengakuan dosa serta dengan pelataran depan dan menara. 


Perluasan dan pembangunan permanen tersebut dirancang oleh arsitek Belanda yang bernama Mr. Han Groenewegen dan dilaksanakan oleh Mr. Langereis. 


Hasil dari rancangan arsitek dan pelaksanaan tersebut yang dapat dilihat saat ini, yang menjadikan Gereja Katedral Medan sebagai salah satu bangunan tua bersejarah dan bernilai arsitek yang tinggi di kota Medan ini. 


Sebutan lengkap dan resmi untuk Gereja ini adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal (Katedral Medan).


Yuk! Apalagi? Silahkan kunjungi Gereja Katedral Medan yang masih bernuansa sejarah.


4. Kuil Shri Mariamman
Kuil Shri Maiamman sisi depan.

Di kota Medan terdapat tempat yang dijuluki 'The Little India'. Di sana terdapat kuil yang konon tertua di Medan.


Kuil Hindu ini terletak di Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah, Medan Sumatera Utara. Kuil ini dibangun pada tahun 1881 untuk memuja dewi Mariamman.


Kuil ini terletak di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Madras. Kuil yang menstanakan lima dewa, masing-masing Dewa Shri Vinayagar, Shri Murugan, dan Dewi Shri Mariamman (Durga dalam wujud Kali) itu dikelola salah seorang keluarga pemilik perusahaan besar Texmaco, Lila Marimutu. Pintu gerbangnya dihiasi sebuah gopuram, yaitu menara bertingkat yang biasanya dapat ditemukan di pintu gerbang kuil-kuil Hindu dari India Selatan atau semacam gapura.


Kuil Shri Maiamman tahun 1923. 

Kuil ini sering dipenuhi umat Hindu apabila festival Deepawali dan Thaipusam diadakan disini.


Ketika kamu masuk ke kuil melalui gerbang depan, kita akan langsung menemukan dua patung, kamu akan langsung menemukan patung Shiwa di depan pintu masuk. 


Lalu di bagian atas pintu dan si sisi kanan-kiri pintu kuil terdapat patung Tuwarsakti yaitu penjaga Dewi Shri Mariamman yang berparas cantik. Yang unik dari patung dewi ini ada pada keempat tangannya yang bersenjatakan trisula, gada, dan pasa.


Kuil Shri Maiamman tahun 1925.

Di Kuil ini tidak dipungut biaya masuk, hanya saja kamu harus menghormati umat Hindu yang sedang beribadah seperti melepaskan alas kaki ketika masuk, kemudian menjaga suara agar yang beribadah tetap hikmat. 


Kuil ini buka setiap hari sejak pukul 06.00-12.00 Wib. Tutup ketika tengah hari dan akan dibuka kembali pukul 16.00-20.00 Wib.


5. Rumah Tjong A Fie
Rumah Tjong A Fie tahun 1930.

Jika kamu berkunjung ke Medan Sumatera Utara, dan ingin berwisata religi yang bersejarah, kamu bisa mengunjungi rumah Tjong A Fie yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani No.105, Kesawan Kecamatan Medan Barat Kota Medan.


Rumah Tjong A Fie adalah rumah dua lantai yang dibangun oleh Tjong A Fie (1860–1921), ia seorang pedagang Hakka yang memiliki banyak tanah perkebunan di Medan.


Tjong A Fie

Tjong A Fie juga seorang pengusaha, bankir dan kapitan yang berasal dari Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera.. 


Ia membangun bisnis besar yang memiliki lebih dari 10.000 orang karyawan. Karena kesuksesannya tersebut, Tjong A Fie dekat dengan para kaum terpandang di Medan, diantaranya Sultan Deli, Ma'moen Al Rasyid serta pejabat-pejabat kolonial Belanda.


Pada tahun 1911, Tjong A Fie diangkat sebagai "Kapitan Tionghoa" (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian.


Pengunjung saat berfoto di dalam rumah Tjong A Fie.

Sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, Tjong A Fie sangat dihormati dan disegani, karena ia menguasai bidang ekonomi dan politik.


Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api.


Tjong A Fie berkerabat dengan Cheong Fatt Tze yang membangun Cheong Fatt Tze Mansion di Penang, Malaysia. Sekilas ada kemiripan antara Rumah Tjong A Fie dan Cheong Fatt Tze Mansion.


Rumah ini selesai dibangun tahun 1900 dan dirancang dengan gaya arsitektur Tionghoa, Eropa, Melayu dan art-deco dan menjadi objek wisata bersejarah di Medan.


Sejak tahun 2009 sebagian rumah ini dibuka untuk dikunjungi umum. 


dari bagian bawah, terlihat bagian atas ini sangat indah. Jendela yang banyak dan dicat berwarna hijau akan membuat kita terkagum-kagum. Tangga juga masih terbuat dari kayu dan masih bisa dipakai. Tidak usah khawatir kayu sudah lapuk.


Rumah Tjong A Fie tampak depan.

Di bagian tengah rumah, ada halaman yang cukup luas. Dari halaman ini kita bisa melihat ke atas untuk melihat jendela yang banyak tersebut. Di bagian belakang rumah, ternyata masih menjadi tempat tinggal keturunan Tjong A Fie, karena itu tidak boleh dimasuki.


Selayaknya rumah khas Tiongkok, di dalam rumah ada tempat untuk sembahyang. Tempat sembahyang ini bukan untuk umum, namun tempat sembahyang keluarga.


Setiap pengunjung untuk dapat menikmati kemegahan dan sejarah tentunya hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp. 35.000 per orang.


Harga tersebut sudah dengan guide yang akan mengelilingi seluk beluk rumah tanpa adanya fee tambahan.


Opening Hours (jam buka) mulai pagi pukul 09.00 Wib hingga sore pukul 17.00 Wib. Banyak sekali spot foto keren yang bisa kamu abadikan disini.


Sangat disayangkan jika kamu ke Medan tidak mampir mengunjungi rumah Tjong A Fie. Isi rumah Tjong A Fie benar-benar membuat mata terkesima.


Dikompilasikan oleh Ridwan Fahlevi dari berbagai sumber tentang wisata di Kota Medan.

Categories:
Similar Movies