Legenda Putri Hijau Misteri dari Tanah Deli


Konon menurut hikayat pada abad ke-15 di daerah Deli ada sebuah kerajaan yang bernama Deli Tua sebelumnya bernama Kerajaan Aru.

Kerajaan tersebut mempunyai perbatasan yang panjangnya dari Teluk Aru hingga sekitar Sungai Rokan. Kerajaan ini selalu mendapat saingan dari Kerajaan Aceh, yang pada ketika itu sedang sangat jaya. 

Untuk menghindari bencana lebih jauh, kerajaan ini memindahkan ibukotanya jauh dari tepi pantai Selat Malaka. Kota yang baru itu diberi nama Deli Tua.

Kala itu yang memerintah Kerajaan ialah Sultan Sulaiman. Suatu ketika, murung meliputi rakyat Kerajaan Gasip (yang konon berganti nama menjadi Kerajaan Deli Tua semenjak ibukotanya berpindah ke daerah tersebut). Sang Raja sakit parah, berhari-hari sudah lelaki tua berwajah teduh itu hanya bisa terbaring di kamarnya. 

Tubuhnya kian melemah, Raja yang terkenal arif dan bijaksana tersebut berusaha tersenyum kepada setiap orang yang membesuknya. Namun, senyum itu tetap tidak dapat menyembunyikan sakit bersarang dan berbiak di tubuhnya.

Kesedihan Putri Hijau dan Wafatnya Sultan Sulaiman


Istana Maimun

Pada suatu malam, saat hujan yang turun sejak sore belum juga reda. Raja memanggil anak-anaknya yakni, anak sulung bernama Mambang Yazid, yang kedua bernama Putri Hijau, dan yang terakhir bernama Mambang Khayali.

Ketiga anaknya sudah berada di samping Raja dan mereka tidak bisa menyamarkan kesedihan dengan berlagak tegar. Bahkan Putri Hijau tak dapat menahan isak tangis, dadanya serasa sesak.

Air mata bergulir di pipi ranum dan indah Putri Hijau. Sang Raja memegang lemah tangan Putri Hijau. Dia tidak ingin anak-anaknya hanyut pada kesedihan tak bermuara.

Ketiga putra-putri Sultan Sulaiman ini dianggap rakyatnya sebagai penjelmaan dewa-dewi. Mereka dipuja sebagai orang-orang sakti.

“Jangan biarkan kesedihan merajai hati,” ucap Sultan Sulaiman, setengah berbisik.

Mambang Yazid memberi kode kepada kedua adiknya agar tenang. Putri Hijau berusaha menghentikan tangisnya. Dia mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Mambang Khayali tertunduk untuk menahan rasa sedih yang meluap-luap di dadanya.

“Kudengar Ibu kalian menyeru-nyeru memanggilku. Dia telah menantiku di sana,” ucap Raja dengan mata menerawang.

“Minta Ibunda sabar menunggu,” kata Putri Hijau sembari air mata merembes dari sudut matanya sebab wajah almarhum Ibunda kembali terbayang.

“Semuanya punya batas, punya waktu untuk datang, untuk pergi. Sudah dekat... sudah dekat waktuku....” kata Sultan Sulaiman.

Kembali pecah tangis Putri Hijau. Mambang Yazid dan Mambang Khayali menguatkan hati saudara perempuannya.

“Tenanglah. Semua sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa,” ujar Mambang Yazid sembari mengusap-usap bahu Putri Hijau.

Kamar hening. Hanya terdengar suara nafas Raja. Basah mata Putri Hijau. Sesaat-saat,  keheningan pun pecah. 

Raja pun wafat di hadapan seluruh anaknya. Isak Putri Hijau pun tak tertahan lagi. Tangisnya seolah menembus kisi-kisi Istana, melesat ke langit. Petir menyambar dan hujan kian deras.

Duka merebak, bukan saja di hati Mambang Yazid, Mambang Khayali, dan Putri Hijau. Kedukaan itu juga merambah setiap hati penduduk Kerajaan Deli Tua. 

Pada hari pemakaman Sultan Sulaiman, nyaris tidak ada aktivitas. Pekan sepi. Ladang sunyi, seluruh rakyat berkabung.

Mambang Yazid Menjadi Raja
Salah satu dari pecahan Mariam Puntung di Kabupaten Karo.

Kearifan dan kebijaksanaan Sultan Sulaiman ternyata turun kepada Mambang Yazid. Akhirnya dia memimpin Kerajaan meneruskan perjalanan sang ayahanda yang sudah wafat dengan tetap berpegang kepada keadilan dan kebenaran.

Tatkala sombong muncul, Mambang Yazid pun segera ingat pantun yang selalu dilantunkan Sultan Sulaiman, "Bunga Kenanga di atas kubur. Pucuk cari pandan jawa. Apa guna sombong dan takabur? Rusak hati, badan binasa. Air melurup ke tepian mandi. Kembang berseri bunga senduduk. Elok diturut resmi padi. Semakin berisi, semakin merunduk".

Cahaya Putri Hijau Getarkan Raja Aceh
Situs wisata Putri Hijau di Kabupaten Karo.

Putri Hijau kian matang.  Keindahan wajah dan tubuh, berpadu dengan kematangan jiwa, melahirkan pesona yang tiada tara.

Dia selalu membantu Mambang Yazid dalam mencari jalan keluar dari masalah yang melanda Kerajaan. Solusi yang diberikan Putri Hijau selalu tepat dalam mengatasi setiap masalah dan dirinya pun menjadi pujaan rakyatnya. 

Bahkan setiap menjelang senja, saat Putri Hijau merenung dan berdoa di taman belakang istana, tubuhnya memancarkan cahaya hijau itu seolah memanjat udara, menembus awan, dan berpendar-pendar di langit paling jauh.

Ketika Sultan Mukhayat Syah dari Aceh sedang beristirahat di istananya, tiba-tiba ia melihat cahaya hijau dari arah timur. 

Sultan segera memanggil Menterinya dan menanyakan, apakah gerangan cahaya itu? Menteri juga ikut terkejut dan tidak dapat menjawab pertanyaan Sultan. 

Lalu keesokan paginya, diutuslah seorang kepercayaan Sultan agar menyelidiki cahaya itu. Hasil penyelidikan menyebutkan bahwa cahaya itu berasal dari tubuh Putri Hijau.

Cerita tentang Putri Hijau telah membuat Sang Raja Aceh ini mabuk cinta. Siang malam Raja dilanda keinginan untuk bertemu, berbincang, dan kemudian mempersunting Putri Hijau.  

Menteri pun kembali mendapat perintah untuk kembali ke Deli Tua. Bukan untuk mencari tahu lebih jauh tentang Putri Hijau. Lebih dari itu! Raja mengirim Menteri ke Deli Tua untuk meminang Putri Hijau.

“Bawa persembahan yang paling mahal dan paling sulit dicari di jagat raya ini. Persembahkan kepada Putri Hijau dan keluarganya. Katakan, aku mempunyai niat baik menjadikan Putri Hijau sebagai Permaisuriku. Berangkatlah secepatnya. Sampaikan dengan benar pada Putri Hijau, niat baikku adalah kebaikan bagi Deli Tua,” perintah Raja.

Cinta Raja Aceh Bertepuk Sebelah Tangan
Situs Benteng Putri Hijau 

Setelah berhari-hari berlayar, sampaikan utusan Kerjaan Aceh ke Deli Tua. Menteri dan beberapa pengawal langsung menghadap Raja Mambang Yazid.  

Tanpa memperbanyak kata, sang utusan dari Raja Aceh ini menyampaikan niat Rajanya untuk mempersunting Putri Hijau, adik Raja Mambang Yazid.

Mambang Yazid menunda memberikan jawaban. Dia mempersilahkan Menteri dari Aceh itu untuk menunggu sembari menikmati sajian hiburan dan makanan yang telah disiapkan. 

Setelah itu, Mambang Yazid pun mendatangi Putri Hijau yang tengah berada di taman belakang istana mereka.

“Adinda tentu telah mengetahui kedatangan utusan Kerajaan Aceh. Tentu Adinda tahu pula mereka datang untuk meminang Adinda. Keputusan ada di tangan Adinda,” ucap Mambang Yazid.

Putri Hijau tertunduk, belum memberi jawaban. Mambang Yazid ikut diam. Raja itu sabar menunggu jawaban adiknya. Sedikit pun Mambang Yazid tidak ingin memaksa Putri Hijau untuk mengikuti kehendaknya.

Putri Hijau berkata,  “Sampai kini, belum terbersit di hati Adinda hendak bersuami. Sudilah kiranya Kanda mengerti keinginan Adinda yang ingin tetap tinggal bersama Kakanda. Tetap merasa Kakanda sebagai pengganti Ayah Bunda yang telah pergi selamanya...”

Mambang Yazid merasa sudah cukup mendapat jawaban. Putri Hijau menolak lamaran Raja Aceh. 

Sebagai Abang sekaligus Raja, Mambang Yazid tentu akan mendukung keputusan Putri Hijau.

“Maaf seribu maaf, Menteri utusan Negeri Aceh. Yang Maha Mengatur tampaknya belum mengizinkan maksud dan hajat Raja Aceh. Adinda kami, Putri Hijau, belum ingin dipersunting, walau dia tahu bakal menjadi Permaisuri Aceh yang permai dan makmur. Bawa kembalilah segala bingkisan dan persembahan. Sampaikan pesan ini kepada Baginda Raja Aceh,” ucap Mambang Yazid pelan namun tegas.

Menteri dari Aceh itu terkejut. Dia tidak menyangka, Kerajaan Deli Tua menolak lamaran Raja Aceh.

Mendapat jawaban itu, utusan Kerajaan Aceh itu langsung berkemas. Dia memerintahkan seluruh pengawal untuk mengumpulkan kembali bingkisan dan persembahan Hari itu juga mereka kembali ke Aceh.

Amarah Raja Aceh dan Terjadinya Peperangan
Ilustrasi

Sesampai di Aceh, Menteri langsung menghadap Sang Raja. Tanpa melebihkan, tanpa mengurangi, seluruh perkataan Mambang Yazid disampaikannya.

Raja Aceh terbakar amarah. Penolakan itu sungguh sebuah hinaan, bukan saja pada dirinya, tetapi juga pada Kerajaan Aceh. Di balik kemarahan itu, kepiluan terasa di hatinya.

Seketika, Raja Aceh mengeluarkan perintah agar seluruh kapal lengkap dengan senjata dan prajurit disiapkan. Menteri tidak berani bicara apa pun. Dia langsung memohon izin untuk melaksanakan perintah Raja.

Tiba di perbatasan menuju Deli Tua, Raja Aceh mengirim utusan untuk menyampaikan pesan secara langsung kepada Mambang Yazid. Pesan itu adalah Kerajaan Deli Tua harus menyerahkan Putri Hijau kepada Raja Aceh. Jika Putri Hijau tetap menolak, maka perang adalah jalan keluar!

Namun dengan sangat baik pula Mambang Yazid memahami keinginan Putri Hijau. Keputusan telah ditetapkan, Kerajaan Deli Tua tetap tidak akan menyerahkan Putri Hijau kepada Raja Aceh.

Hingga perang pun tak terelakkan, suara gemuruh, jerit kesakitan, atau erangan sebelum maut menjemput terdengar di kubu Deli Tua maupun Kerajaan Aceh. 

Pertempuran yang sudah berlangsung berhari-hari itu dilakukan saling memanah. Anak-anak panah pun  terbang melesat dan jatuh seperti titik-titik hujan.

Selama peperangan terjadi, belum pernah terjadi pertarungan pedang antara kedua belah pihak. Sebab, prajurit Aceh tidak bisa menembus benteng pertahanan Deli Tua yang memanfaatkan rumpun bambu. 

Alhasil, Kerajaan Aceh tetap berada di luar sama sekali belum bisa masuk. Padahal makanan kian menipis.

Siasat Raja Aceh Kalahkan Kerajaan Deli Tua
Ilustrasi perang.

Peperangan kian hari semakin memojokkan pasukan Raja Aceh. Tiba-tiba Raja Aceh pun berpikir keras mencari jalan untuk menembus benteng pertahanan tersebut. 

Setelah lama memandangi bayang rumpun bambu di pinggiran Sungai Deli, akhirnya Raja Aceh mendapat ide. Dia memerintahkan prajuritnya untuk mengisi laras meriam dengan emas lalu menembakkannya ke benteng pertahanan Deli Tua.

Siasat ini berhasil, sesuai dengan keinginan Raja Aceh, emas-emas yang mereka tembakkan memecahkan konsentrasi prajurit Deli Tua. 

Tidak hanya itu, para prajurit Deli Tua saling berebut emas yang jatuh bagai hujan ke daerah pertahanan mereka. 

Di saat terjadi kekacauan inilah, para prajurit Aceh berhasil menembus jantung pertahanan Deli Tua. Bagai serangan mendadak, prajurit Aceh berhasil menyingkirkan prajurit Deli Tua yang menjaga benteng pertahanan. Akhirnya, prajurit Aceh pun berhasil masuk ke Deli Tua.

Kabar ini dengan cepat sampai ke Istana Deli Tua. Mambang Yazid segera mengumpulkan kedua adiknya, Putri Hijau dan Mambang Khayali. 

Mambang Yazid berkata, “Jangan sedih, Dinda. Kanda akan tetap menjaga sebagaimana pesan Ayahanda.  Dengar baik-baik pesan Kanda. Bila Raja Aceh itu menawan Adinda, mintalah padanya keranda kaca. Berbaringlah Dinda di dalamnya selama pelayaran dari ke Aceh. Sebelum kapal kalian sampai ke Aceh, mintalah kepada Raja Aceh, agar setiap rakyatnya melemparkan sebutir telur dan segenggam bertih ke laut. Itu saja. Semoga kita dapat berjumpa kembali...”

Setelah menyampaikan pesan tersebut, Mambang Yazid pun memeluk kedua adiknya. Erat, teramat erat. Setelah itu, dia pun terjun ke tengah pertempuran lalu menghilang.

Sedangkan Mambang Khayali menjelma menjadi meriam yang tak henti-hentinya menembaki prajurit Aceh.  Berjatuhan prajurit Aceh. Namun jumlah mereka amat banyak, daya meriam kian habis dan kikis hingga akhirnya larasnya patah, terpental kuat ke udara.

Pada saat itu, masuklah Raja Aceh. Dia terpana melihat keindahan Putri Hijau. Kesedihan bahkan menambah daya tarik Putri Hijau. Ada degup kencang di dalam dada Raja Aceh. Yang bayang-bayangkannya kini ada di depan mata. Kemolekan Putri Hijau lebih daripada yang dibayangkannya. Raja Aceh seolah tersihir oleh kecantikan Putri Hijau.

Putri Hijau Dalam Kerenda Kaca dan Dibawa Sang Naga
Ilustrasi Putri Hijau dan Sang Naga.

Putri Hijau melihat keterpesonaan Raja Aceh terhadap dirinya. Pada saat itu pula dia menyampaikan permintaan sesuai dengan pesan Mambang Yazid.

“Berikan aku keranda kaca dan biarkan aku berbaring di dalamnya sepanjang pelayaran ke Aceh,” ucap Putri Hijau dengan lembut.

Raja Aceh menyanggupinya langsung memanggil pengawalnya dan memerintahkan agar secepat mungkin mendapatkan keranda kaca.

Tak lama kemudian, keranda kaca pun telah tiba di Istana Deli Tua yang sudah porak-poranda. Dengan penuh ketegaran, Putri Hijau berbaring di dalam keranda itu. Selanjutnya, keranda tersebut pun diangkat ke kapal Raja Aceh.

Rombongan kapal Raja Aceh mulai mendekati pantai. Rakyat melihat kapal-kapal mengibarkan bendera kemenangan. 

Ini artinya, hajat Raja mereka tercapai. Rakyat berkumpul di pinggir pantai untuk menyambut kepulangan Sang Raja. Meriam pun ditembakkan sebagai tanda penghormatan atas kemenangan dan kegagahan Sang Raja.

Ketika itu, Putri Hijau mengetuk dinding kerenda kacanya. Dia ingin mengajukan permohonan kedua. Raja Aceh pun mendatanginya.

Putri Hijau pun meminta Raja agar memerintahkan seluruh rakyat Aceh melemparkan sebutir telur dan segenggam bertih ke laut.

Beberapa saat kemudian, hujan pun turun, angin kian kencang, badai datang dan ombak setinggi bukit menghantam silih berganti. 

Tiba-tiba langit menjadi gelap, kapal-kapal Aceh terombang-ambing dipermainkan gelombang. Tiang-tiang layar berpatahan. Lalu terdengar suara menderu keras, sangat keras. Mengalahkan suara angin dan hujan. 

Dari dalam lautan, melesat naga raksasa ekornya melibas kapal-kapal Aceh. Jerit ketakutan, raung kesakitan menyatu dalam deru angin badai.

Putri Hijau merasakan Mambang Yazid telah menjelma naga dan menghancurkan kapal-kapal, yang membuat keranda kacanya terpental lalu sejenak mengapung di laut dan dibawa naga ke dasar lautan.

Di dasar lautan ini, Putri Hijau pun keluar dari keranca kacanya. Seketika Putri berada dalam sebuah istana di dasar lautan. Pada saat itu pula, naga hilang berganti Mambang Yazid.

“Di sinilah istanamu sekarang, Adinda. Berbahagia di sini sampai kiamat tiba. Bila rindu, panggil saja Kanda. Kita akan bertemu lagi,” ujar Mambang Yazid lalu kembali menghilang dari pandangan Putri Hijau.

Dikisahkan juga setelah bertemu dengan kedua adiknya, Mambang Yazid yang sakti itu berdiam di Selat Malaka.

Syarat Ritual Meraih Tuah Putri Hijau
Tuah Pemandian Putri Hijau.

Makna di balik realita orang-orang meruwat di pemandian Putri Hijau. Kiranya kisah dewi legendaris itu, menjadi hal yang menarik kebanyakan orang yang mengharapkan keberkahan dan menyimpan kalkulasi mistis dari legenda tersebut.

Apa saja syarat dari lokasi perang besar sang putri 400 tahun yang lalu itu banyak orang meraih keberkahan jalan nasib?

Mengupas misteri di balik sohornya kemujaraban ritual di pemandian Putri Hijau di Delitua, Deli Serdang Sumatera Utara, menjadi hal yang menarik.

Tiga syarat utama keberhasilan ritual pemandian Putri Hijau yakni, patuh, ikhlas dan sabar.

Lantas, apa makna di balik realita orang-orang meruwat di pemandian sang Putri legendaris itu?

Putri Hijau itu sejatinya adalah kisah ratu dengan rakyat yang mempunyai kisah misteri terhadap banyak masalah. Nah, hal itu mereka jadikan tujuan dalam menyelesaikan masalah.

Putri Hijau berparas sangat jelita dan dengan tubuh indahnya selalu dibungkus busana serba hijau, dewi legenda hidup Tanah Deli itu identik dengan sosok Nyi Roro Kidul, Ratu Lelembut Tanah Jawa. Begitu pula soal kesaktiannya, orang-orang yang meyakini kedua Dewi legendaris tersebut memiliki banyak kesamaan tentang mengajarkan manusia untuk selalu berbudi luhur.

Mariam Puntung mengeluarkan suara Misteri
Mariam Puntung di Istana Maimun.

Legenda Mariam Puntung ini dikisahkan terus menerus dengan berbagai versi yang beredar di Masyarakat.

Sebagian pecahan Mariam Puntung saat ini berada di komplek Istana Maimun, mungkin ada penambahan-penambahan cerita mistis yang mengikuti sehingga menambah rasa penasaraan orang-orang yang mendengarnya.

Saat berada di sana, cobalah menempelkan telinga ke lubang kecil yang berada di badan mariam. 

Setiap orang yang menempelkan telinga di Mariam akan mendengar suara yang berbeda-beda, ada yang mendengar suara dengungan dan ada pula yang mendengar suara seperti orang merintih atau menangis.

Selain itu dari sebagian pengunjung yang datang, ada juga melakukan berdoa disana. Konon menurut cerita dengan hati dan niat bersih saat berdoa di samping Mariam maka Doa akan terkabul. 

Diatas Mariam Puntung diletakkan bermacam-macam bunga oleh para pengunjung yang doanya sudah terkabul.

Sedangkan di depan Mariam yang dikenal keramat tersebut terdapat cawah putih yang berisi air bening, biasanya setelah siap berdoa maka wajah dibasuh dengan air bening tersebut.

Pastinya seru berwisata ke lokasi itu, sambil berwisata kamu mendapat wawasan baru tentunya.

Dikompilasikan oleh Ridwan Fahlevi dari berbagai sumber kisah tempo dulu.
Categories:
Similar Movies